NUANSA LAMPUNG

NUANSA LAMPUNG

NUANSA LAMPUNG

 

Lampung adalah salah satu Provinsi yang ada di Negara Indonesia, terletak di bagian paling selatan pulau Sumatra. Provinsi ini memilki 2 Kota dan 13 Kabupaten. Kota yang dimaksud adalah Kota Bandar Lampung dan Kota Metro. Disebelah utara berbatasan dengan Bengkulu dan Sumatera Selatan.
Lampung merupakan akses masuk pulau Sumatera khususnya dari pulau Jawa menuju pulau Sumatera. Provinsi Lampung memiliki Pelabuhan utama bernama Pelabuhan Panjang sebagai pelabuhan barang khususnya dan Pelabuhan Bakau Huni sebagai Pelabuhan penyebrangan kendaraan dan orang khususnya. Di Lampung juga terdapat pelabuhan nelayan seperti Pasar Ikan (Telukbetung), Tarahan, dan Kalianda di Teluk Lampung. Bandar Udara utama adalah Radin Inten II, yaitu nama baru dari Branti, 28 Km dari Ibukota melalui jalan negara menuju Kotabumi, dan tiga Bandar Udara perintis yaitu : Bandar Udara Pekon Serai di Krui, Pesisir Barat, Bandar Udara Gatot Soebroto di Kabupaten Way Kanan dan Lapangan terbang AURI terdapat di Menggala yang bernama Astra Ksetra.
Secara Geografis Provinsi Lampung terletak pada kedudukan : Timur – Barat berada antara : 103º 40′ – 105º 50′ Bujur Timur Utara – Selatan berada antara : 6º 45′ – 3º 45′ Lintang SelatanSedangkan di Teluk Semaka adalah Kota Agung (Kabupaten Tanggamus), dan di Laut Jawa terdapat pula pelabuhan nelayan seperti Labuhan Maringgai dan Ketapang. Di samping itu, Kota Menggala juga dapat dikunjungi kapal-kapal nelayan dengan menyusuri sungai Way Tulang Bawang, adapun di Samudra Indonesia terdapat Pelabuhan Krui.
Provinsi Lampung lahir pada tanggal 18 Maret 1964 dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 3/1964 yang kemudian menjadi Undang-undang Nomor 14 tahun 1964. Sebelum itu Provinsi Lampung merupakan Karesidenan yang tergabung dengan Provinsi Sumatera Selatan. Kendatipun Provinsi Lampung sebelum tanggal 18 Maret 1964 tersebut secara administratif masih merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Selatan, namun daerah ini jauh sebelum Indonesia merdeka memang telah menunjukkan potensi yang sangat besar serta corak warna kebudayaan tersendiri yang dapat menambah khasanah adat budaya di Nusantara yang tercinta ini. Oleh karena itu pada zaman VOC daerah Lampung tidak terlepas dari incaran penjajahan Belanda.
Lampung memiliki beragam objek wisata yang sangat indah yang tidak kalah dengan objek pariwisata di daerah lain yang bisa dijadikan objek untuk wisatawan baik lokal maupun asing untuk datang, selain objek wisatanya masyarakatnya juga sangat terbuka terhadap pendatang, baik dari dalam maupun luar kota dan juga wisatawan asing.
Lampung memiliki salah satu Ikon yang bernama Siger (sigokhyaitu mahkota pengantin wanita Lampung yang berbentuk segitiga, berwarna emas dan biasanya memiliki cabang atau lekuk berjumlah sembilan atau tujuh. Siger adalah benda yang sangat umum di Lampung dan merupakan simbol khas daerah ini. Siger dibuat dari lempengan tembaga, kuningan, atau logam lain yang dicat dengan warna emas. Siger biasanya digunakan oleh pengantin perempuan suku Lampung pada acara pernikahan ataupun acara adat budaya lainnya. Pada zaman dahulu, siger dibuat dari emas asli dan dipakai oleh wanita Lampung tidak hanya sebagai mahkota pengantin, melainkan sebagai benda perhiasan yang dipakai sehari-hari.
Selain Siger Lampng pula memiliki Kain Tapis sebagai pakaian wanita suku Lampung yang berbentuk kain sarung terbuat dari tenun benang kapas dengan motif atau hiasan bahan sugi, benang perak atau benang emas dengan sistem sulam (Lampung; “Cucuk”). Dengan demikian yang dimaksud dengan Tapis Lampung adalah hasil tenun benang kapas dengan motif, benang perak atau benang emas dan menjadi pakaian khas suku Lampung. Jenis tenun ini biasanya digunakan pada bagian pinggang ke bawah berbentuk sarung yang terbuat dari benang kapas dengan motif seperti motif alam, flora dan fauna yang disulam dengan benang emas dan benang perak. 
Tapis Lampung termasuk kerajian tradisional karena peralatan yang digunakan dalam membuat kain dasar dan motif-motif hiasnya masih sederhana dan dikerjakan oleh pengerajin. Kerajinan ini dibuat oleh wanita, baik ibu rumah tangga maupun gadis-gadis (muli-muli) yang pada mulanya untuk mengisi waktu senggang dengan tujuan untuk memenuhi tuntutan adat istiadat yang dianggap sakral. Kain Tapis saat ini diproduksi oleh pengrajin dengan ragam hias yang bermacam-macam sebagai barang komoditi yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.
Untuk para wisatawan yang hendak mengetahui lebih dalam seputar Lampung, kami siap untuk mendampingi, baik mengenai penelitian sejarah Lampung, Eksplor Wisata, dll. Silahkan Hub. Kontak Person kami di 081272148104.

Related post

Menyalakan Daya Perempuan: Dari Keraguan Menuju Kepemimpinan

Menyalakan Daya Perempuan: Dari Keraguan Menuju Kepemimpinan

Nuansalampung.com–Di Hari Kartini, lima perempuan lintas profesi berbagi kisah tentang ragu, jatuh, dan bangkit—menegaskan bahwa kekuatan lahir dari proses, bukan kesempurnaan.…
Bahasa Lampung Menggema di Paripurna: Cara DPRD Pesisir Barat Hidupkan Identitas Lokal

Bahasa Lampung Menggema di Paripurna: Cara DPRD Pesisir Barat…

Nuansalampung.com–Suasana berbeda terasa di ruang sidang DPRD Pesisir Barat, Kamis, 9 April 2026. Bukan hanya membahas Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *