
Menyalakan Daya Perempuan: Dari Keraguan Menuju Kepemimpinan
- NewsUtama
- April 22, 2026
- 2 minutes read
Nuansalampung.com–Di Hari Kartini, lima perempuan lintas profesi berbagi kisah tentang ragu, jatuh, dan bangkit—menegaskan bahwa kekuatan lahir dari proses, bukan kesempurnaan.
Di Wisma Habibie & Ainun, ParagonCorp menggelar diskusi “Her Strength, Her Light: A Journey through Doubt, Growth, and Becoming”. Dalam suasana reflektif, Retno Marsudi, Susy Susanti, Nikita Willy, Nadia Habibie, dan dr. Sari Chairunnisa berbagi pengalaman tentang bagaimana keraguan justru menjadi pintu pertumbuhan.
Mengangkat tema “menemukan kekuatan di balik rasa belum cukup”, ParagonCorp menyoroti paradoks yang dihadapi banyak perempuan: keinginan besar untuk berkembang, namun kerap terhambat oleh rasa tidak percaya diri. Data internal menunjukkan, 83% perempuan ingin maju, tetapi hanya sekitar 30% yang merasa cukup yakin untuk melangkah.
“Keraguan bukan untuk dihilangkan, tapi dihadapi. Di situlah kita bertumbuh,” ujar dr. Sari Chairunnisa. Senada, Retno Marsudi menyebut pertanyaan “apakah saya sudah cukup?” sebagai bahan bakar untuk terus maju. Sementara Susy Susanti menekankan pentingnya daya juang di tengah dominasi laki-laki, dan Nikita Willy menggarisbawahi konsistensi menjadi kunci di tengah sorotan publik. Bagi Nadia Habibie, kesempatan adalah amanah untuk memberi dampak.
Dari perbincangan itu, satu benang merah menguat: tak ada perempuan yang tumbuh sendirian. Dukungan lingkungan menjadi fondasi penting—sesuatu yang belum tentu dimiliki semua perempuan.
Menjawab kebutuhan itu, ParagonCorp mengembangkan Women’s Space, yang sejak 2023 telah menjangkau lebih dari 10.000 perempuan di berbagai kota. Lebih dari sekadar ruang aman, inisiatif ini kini bergerak menjadi ekosistem kepemimpinan melalui program mentorship berbasis empat pilar: Leading Self, Leading Systems, Leading Enterprise, dan Leading Narratives.
Melalui Women’s Space, ParagonCorp ingin melahirkan pemimpin perempuan yang tak hanya bertumbuh secara pribadi, tetapi juga menularkan dampak bagi lingkungan. Sebab, ketika satu perempuan melangkah, perubahan ikut bergerak—menjalar dari diri, ke komunitas, hingga lintas generasi.(ril)
Editor: Agung Chandra Widi





